Cerpen: Jari Jemariku, Aku Seorang Kanibal


Jari Jemariku, Aku Seorang Kanibal

            Ia mengunci dirinya lama didalam kamar apartemen megah miliknya. Mondar-mandir. Sesekali ia mengisap-isap ibu jari tangan kiri miliknya yang berasa kecut karena keringat dan hanya meninggalkan bercak pori-pori ibu jarinya. Ia bingung. Khawatir dan terus memikirkan apa yang telah dikatakan senior di partai politiknya.
            Seniornya berkata “menjadi politikus itu banyak yang harus dikorbankan. Terkadang, kamu harus rela memakan dirimu sendiri. Kamu harus menjadi seorang kanibal. Setelah dirimu sendiri sudah termakan, maka semua peluang untuk menjadi politikus hebat akan datang.” Kata-kata itu terus menerus terngiang didalam pikirannya. Berputar-putar mencari kebenaran dari ucapan seniornya itu.
            Kalau dipikir-pikir sudah 3 dekade pemilihan legislatif ia mencalonkan diri di dapilnya. Namun, sudah 3 kali juga ia tidak pernah lolos. Kolega-kolega partai politiknya tidak mau menjalin kerjasama dengannya secara serius. Tulisan-tulisan kampanyenya yang ia tulispun tak pernah tembus untuk dimuat di media cetak. Padahal ia sudah mengutip banyak data dari para pakar politikus dunia, iapun sudah menggunakan diksi maupun majas yang sangat baik di tulisannya itu. Namun, nihil tidak banyak yang tertarik.
            Ia tertekan.
            Merenung. Memikirkan ucapan seniornya.
            Apakah ia sudah memakan dirinya?
            Bagaimana cara dia menjadi seorang kanibal?
*****
            Suatu sore ada hal yang menggerakkan hatinya untuk terus menggigit-gigit ibu jari tangan kirinya. Terus ia gigit sampai akhirnya ia menyerah karena ibu jarinya tak kunjung putus. Ia ingin memakannya. Ia pergi ke dapur apartemennya, mengambil beberapa pisau dapur. Disana hanya ada pisau buah dan pisau untuk mengiris sayuran. Tak ada pisau daging. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk mengambil pisau sayur untuk mulai mengiris ibu jarinya. Pisau itu menembus kulitnya hingga ke tulang. Sudah dari tadi darah tergenang di tempat itu.                                      
            Sakit. 
            Sakit sekali. 
Itu yang ia rasa. Sampai ia menyerah membiarkan ibu jarinya yang hampir putus itu terkulai tak berdaya. Seperti batang pohon yang ditebang oleh orang tolol yang tidak memiliki kemampuan untuk menebang pohon.
            Namun tiba-tiba ibu jarinya terjatuh, menggelinding ke bawah kolong tempat tidurnya. Buru-buru ia mengambil ibu jarinya, lalu ia letakkan diatas kertas HVS A4 yang masih bersih. Hingga akhirnya, ibu jari tangan kirinya mengurai. Melebur. Pecah dan uraian-uraian ibu jarinya itu menjadi sebuah tulisan. Buru-buru ia lihat tulisan itu, artikel kampanye dirinya. Sangat menarik. Kemudian ia kirim ke media cetak, dan tulisan itu ia beri judul “Ibu Jariku Untuk Masyarakat” seminggu kemudian tulisan kampanyenya mendapat respon positif dari masyarakat. Pesan masuk dari berbagai sosial medianya menunjukkan bahwa masyarakat sangat mendukung program kerjanya. Namanya sudah menguar dimana-mana. Ia sangat senang.
            Beberapa hari kemudian ia melakukan hal serupa. Kini jari telunjuk tangan  kirinya. Di bar-table ia mempersiapkan diri, dengan beralaskan buku The Law of Politics ia meletakkan jari telunjuknya, kali ini bukan pisau sayur yang ia gunakan, melainkan kapak. Kapak yang ia temukan di dekat dapur apartemennya tidak sengaja, seperti pertanda baik bahwa Tuhan meridhai kegiatannya. Tanpa ancang-ancang ia memotong jari telunjuknya. Pak. Pak. Dua kali hentakkan, jari telunjuknya putus. Buru-buru ia letakkan jari telunjuknya diatas kertas kosong, dan lagi-lagi jarinya teruarai menjadi sebuah tulisan. Buru-buru Ia kirim ke media cetak dengan judul “Jari Telunjukku Untuk Masyarakat” begitu ia lakukan terus menerus sampai ke lima jari tangan kirinya habis. Semua tulisan yang telah terurai dari jari-jari tangan kirinya selalu ia beri judul sesuai dengan jari yang terpotong.
            Sampai detik itu ia belum merasa puas atas eksistensi yang ia dapat. Namun, ia berpikir tangan kirinya tidak memiliki jari lagi, sudah tidak bisa memotong jari sebelah kananya.
            Ia termenung di sudut kamar.
            Mengangguk-angguk sendiri.
            Frustasi.
            Ia melangkahkan kakinya menuju ruang belakang mencari kotak perkakas disana, ia menemukan alat pengkikis kayu. Tak perlu berpikir panjang ia mengkikis gigi-giginya. Mulai dari gigi graham hingga gigi kelinci miliknya, ia kikis seperti gigi milik penywise, tokoh hantu di film IT. Sangat tajam dan menyeramkan. Ngik. Ngik. Ngik bunyi alat pengkikis itu, sampai ia merasa giginya sudah sangat lancip dan memungkinkan untuk bisa memotong jari-jarinya. Sesaat kemudian, ia mulai mengigit ibu jari tangan kanannya sangat kuat. Hingga akhirnya ibu jari tangan kananya putus. Lalu, ia melakukan hal serupa seperti kemarin-kemarin. Jari tangan kanannya habis. Ia puas. Sangat puas. Karena ia telah memakan dirinya. Persepsi orang-orang tentang dirinya tidak lagi sama seperti kemarin. Peluang untuk memenangkan pemilu kali ini sangat besar. Pendukungnya sangat banyak. Kolega-kolega parta politiknyapun banyak yang mendekatinya.
            Ia bangga.
*****
            “Wah… keren ya kamu, Cuma dalam waktu 3 bulan eksistensimu meroket. Kamu berhasil menyalip mereka yang berada di posisi atas! Kamu benar-benar politikus hebat!” puji seniornya di acara musyawarah besar partainya. Ia menanggapi sekenanya. Tersenyum kikuk.
            “Tapi kok Jamal, kenapa jari-jarimu tidak ada? Ada apa dengan tubuhmu?” sekali lagi, Jamal hanya menganggapinya dengan sebuah senyuman.
            Sekarang, ia sudah menjadi seorang kanibal.
            Ia akan benar-benar menjadi politikus hebat.

                                                                                                Surakarta, 01 Desember 2019
                                                                                                Terinpirasi oleh om Bernard Batubara
                                                                                                                  
                                                                                                                       

Comments

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  2. Good job, ebiii.
    Mantuulll, merinding aku bacanyaπŸ˜πŸ€—πŸ€—πŸ˜πŸ˜πŸ€©πŸ€©

    ReplyDelete
  3. Wah keren sih jarang nemu cerpen ngangkat topik begini

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts