Opini: Dari Perempuan untuk Perempuan Lawan Queen Bee Syndrome
Dari Perempuan untuk Perempuan Lawan Queen Bee Syndrome
“Didiklah anakmu untuk menjadi anak yang baik 10 tahun sebelum ia
lahir.”
-K.H Mukhlis Hudaf (Pimpinan Pondok Pesantren Mambaul Hikam Klaten,
Jawa Tengah)-
Tulisan
ini untuk para perempuan yang mengambil peran, yang berkontribusi, berkarya dan
berdedikasi dengan suka rela di segala bidang dengan berbagai cara. Tanggal 08
maret 2020 kemarin adalah hari perempuan sedunia. Seberepa pentingkah peran
kita dikehidupan ini sampai-sampai duniapun membuat hari khusus untuk
perempuan? Seistimewanya kita, kadang kita suka lupa dengan kodrat yang memang
Allah ciptakan kepada kita, bahwa kita itu istimewa. Keberadaan, eksistensi dan
peran serta konstribusi kita memang menentukan masa depan dan menjadi tolak ukur
sebuah peradaban. Dari rahim perempuan lahir generasi penerus, yang menentukan
nasib bangsa. Dari rahim perempuan seluruh dedikasi yang bisa membawa maju
perekonomian negeri akan terealisasi. Dari rahim perempaun muncul ilmuan-ilmuan
baru yang haus akan ilmu, yang akan menuntun Indonesia agar lebih bermutu. Lantas,
sebagai perempuan sudahkah kita siap untuk menjadi peradaban itu? Sadar gak sih,
kalau kita suka terkurung dengan keadaan kita sendiri, sebagai perempuan kita
suka dirundungi rasa tak percaya dengan kemampuan sendiri, tak jarang kita suka
mengaggap lemah diri kita sendiri. Tak heran, karena menurut fakta sukses
berkorelasi positif untuk laki-laki namun kerap membawa konsekuensi negatif
untuk perempuan. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Ilfelder (1980) dari
The Ohio State University diperoleh bahwa wanita memiliki Fear of Success
yang lebih tinggi daripada pria.
Pernyataan ini deperkuat oleh Matlin (2012) bahwa pengusaha memiliki
pandangan yang negatif terhadap kemampuan pekerja perempuan.
Jangankan
mencoba untuk menjadi pemimpin tersohor,
yang hanya sekadar menegejar ambisi kecilpun kerap ditentang dan
dibilang melawan tradisi. Segala cemoohan, cibiran dan segala macam takaran
yang orang lain keluarkanpun sudah menjadi makanan sehari-hari. Seterkurung
itukah kita dengan keadaan kita? Menjadi berhasil bagi perempuan bisa saja memicu
hal negatif, dibilang begini, dianggap begitu, ditakar macam-macam. Tidak ada
yang tau tentang diri kita kecuali diri kita sendiri. Tanpa sadar, kita sesama
perempuanpun bisa mencurigai satu sama lain, menganggap gerak gerik sejawat
sebagai ancaman bahkan sebuah tentangan. Mungkin, karena stigma bahwa hidup
adalah sebuah ajang kompetisi dan perempuan menempati ruang yang didominasi
oleh laki-laki. Padahal Allah swt telah menjelaskan bahwa pada fitrahnya kita
dan lelaki itu sama dimata-Nya, dalam kalam sucinya berbunyi “maka
hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (islam); (sesuai) fitrah Allah
disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada
perubahan bagi ciptaan Allah. (itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyak
manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar Rum:30)
Ada
fenomena yang kita sebut sebagai Queen Bee Syndrome, Pernah dengar istilah queen
bee syndrome? Sindrom ratu lebah ini pertama kali
didefinisikan oleh G.L. Staines, T.E. Jayaratne, dan C. Tavris pada tahun 1973.
Istilah ini menggambarkan seorang perempuan dalam posisi otoritas yang
memandang atau memperlakukan bawahan lebih kritis jika mereka perempuan.
Pernah
nonton film The Devil Wears Prada? Di film
tersebut sosok Miranda menggambarkan stereotip seorang queen
bee. Dia digambarkan sebagai perempuan dengan jabatan tinggi dan
selalu kritis terhadap bawahannya, khususnya bawahan perempuan. Seorang queen
bee seperti Miranda merupakan potret perempuan yang
egois, seenaknya sendiri, dan haus akan kekuasaan. Mungkin di kantor atau di organisasi
sekolah atau dimanapun bisa menjumpai seorang queen bee seperti ini.
Atau jangan-jangan malah kita sendiri yang memiliki sindrom queen
bee? Menurut hasil penelitian Workplace Bulliying Institute (2018) 58% perundung perempuan adalah perempuan, dan
hampir 90% dari mereka memilih perempuan lainnya sebagai korban. Hal ini kerap
terjadi dimana saja dan kapan saja, tak hanya dilingkup pekerjaan. Dilingkup
organisasi sekolahpun mungkin bisa saja terjadi, saat ruang organisasi yang
kita tempati didominasi oleh laki-laki. Maka tak ayal jika queen bee syndrome
akan ada, ingin selamanya menjadi ratu dan tak mau eksistensinya diganggu.
Padahal menjadi positif bukan tanda bahwa kita
lemah, tak perlu menjadi sesosok Miranda yang otoritasnya harus dituruti penuh
oleh orang lain. Mendukung mereka yang berhasil bukan berarti kita mengakui
kegagalan. Kita harus yakin bahwa kesuksesan tak perlu diperebutkan dan kerja
bersama bisa lebih didahulukan, perempuan bisa untuk ikut berpartisipasi
mengeluarkan potensi diri, berkontribusi kepada negeri. Sudah banyak kita
jumpai para perempuan yang speak up didepan publik, membuat perubahan
yang signifikan terhadap perekonomian, pendidikan dan kemajuan bagi Indonesia,
contohnya Angkie Yudistia, Najwa Shihab,
Khofifah Indar Parawangsa, Risma Trimaharini, Putri Tanjung dan masih
banyak yang lainnya. Sudah saatnya kita melawan sindrom ratu lebah ini, bagaimana
upaya kita untuk terus merangkul satu sama lain dan membuat lingkaran
kepercayaan antar sesama perempuan. Menunjukkan seberapa penting peran dan
kontribusi kita untuk bangsa sebagai peradaban dunia.
Memang,
banyak yang harus diperbaiki. Tapi, kita bisa memulai dari diri kita sendiri. Harga diri tak
ditentukan dari orang lain melainkan pengukuran dari diri sendiri serta paham apa
yang hendak dikejar dan direalisasikan. Mereka yang tak berusaha untuk
menghargai satu sama lain tak punya kesempatan untuk memahami dan mengerti diri
sini apalagi menghakimi sesama perempuan. Perempuan harusnya saling
bergandengan tangan, bukan malah saling menjatuhkan. Mari, kita bicarakan
pencapaian prestasi dan kinerja teman perempuan kita. Mengapa itu perlu? Karena
menurut fakta oleh Unlocking The Full Potential of Women (2011) menunjukkan
bahwa laki-laki dipromosikan karena potensi yang dimilikinya, sedangkan
perempuan hanya berdasarkan performa yang sudah dibuktikannya. Mari, lebih
menunjukkan empati dan kemurahan hati, menjauhi kecemburuan dan menghindari
runcingnya perasaan bersalah yang kerap mendera kita sebagai perempuan. Mari,
kita buktikan kepada dunia bahwa kita memang betul diciptakkan untuk membangun
peradaban bangsa. Dengan mengesampingkan stigma-stigma negatif yang telah menjadi
tradisi di lingkungan kita. Kita semua sama, Allah telah menciptakan kita sama,
kadar yang berbeda-beda tidak boleh menjadikan sebagai penghalang kita sebagai
perempuan untuk berkarya, terus asah diri dan gali potensi, persiapkan diri
dengan akhlaq yang qur’ani untuk menjadi
perempuan muslimah pembangun arsitek peradaban yang dari rahimnya lahir
generasi emas pengharum bangsa.



Comments
Post a Comment