Antologi: Selasa, Kala Itu
Sampai Jadi Debu
Gelap..
Dingin..
Hampa..
Aku dimana? Semuanya
terasa asing bagiku. Penuh kabut, tapi disini harum, ada semerbak wangi bunga
mawar yang menyengat tembus ke indra penciumanku. Tidak ada manik coklat tua
milik ayah yang biasa kulihat tiap pagi, tidak ada suara cempreng yang kudengar
keluar dari bibir ibu saat ini yang biasanya selalu mengomeliku untuk tidak
lupa membawa pil warna warni yang ada di botol putih berbentuk silinder,
katanya nyawaku tergantung oleh isi dari botol putih itu dan ketaatanku oleh
ucapannya. Jangan jadi seperti malin kundang ujarnya, sukses tidak, hidup jadi
batu selamanya iya. Saat ini yang kudengar hanya suara angin syahdu dan dingin
yang teramat, serta rong-rongan suara serigala atau anjing yang sejak kecil aku
tak bisa membedakannya terdengar begitu jauh tapi cukup berhasil membuatku
merinding. Yang kulihat saat ini hanya pohon-pohon tinggi, sepertinya ini pohon
pinus. Penampakannya seperti tempat wisata hutan pinus kragilan di Magelang
yang pernah aku dan kamu kunjungi 4 bulan yang lalu.
Samar
kulihat sosok tinggi dari kejauhan, bentuk tubuhnya yang siluet sepertinya tak
asing bagiku. Kamu linglung, bingung ingin berjalan kemana, sama
sepertiku. Kamu berjalan terombang ambing. Sambil sesekali meringis kesakitan
karena tubuhmu menubruk pohon-pohon pinus itu. Tanganmu seperti ingin
meraup-raup sesuatu. Seperti ingin menggapai sesuatu. Semakin dekat sosok
siluet itu menghampiriku, semakin dekat juga wajah familiar yang kulihat selama
ini, semakin yakin juga, kalau itu kamu.
kamu, orang yang selama ini berhasil mengutak atik
relung hatiku, kamu yang memiliki wajah tridi yang nyata diterjemahkan oleh
kornea mataku, kamu yang memiliki retina hitam pekat dikegelapan dan mendadak
berubah menjadi coklat terang jika terkena sinar mentari, kamu yang memiliki
suara husky yang menurutku itu seksi sekali, apalagi ketika dengan sengaja kamu
menyebut namaku, kamu yang selama ini berkata dan meyakinkanku, kalau semua
akan baik-baik saja.
Masih dengan kegelapan, penampakanmu yang kulihat
saat ini tidak begitu baik. Dengan terseok-seok kamu sempat memberikan senyuman
termanismu, gigimu yang rapih seperti deretan jagung manis yang biasa dimakan
kala sarapan oleh pak satpam sekolah berhasil membuat aku tersipu, tapi kali
ini beda, kali ini aku tak merasakan degupan kencang di dada. Semuanya hampa.
Lagi, kamu tersenyum, tersenyum manis padaku. Sepertinya ada yang ingin kau
utarakan kepadaku. Tapi, lagi-lagi kamu hanya tersenyum. Jujur sebenarnya aku
takut.
“Kamu, kenapa bisa disini?” Tanyaku.
Lagi-lagi kamu hanya tersenyum,
senyumanmu kosong. Tapi aku yakin ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan padaku.
Selangkah demi selangkah kamu melangkah maju, berusaha menggapaiku,
terseok-seok. Tak tega, akupun melangkah
maju mendekatimu.
Semakin dekat..
Semakin dekat..
Hingga kubisa
menyentuh wajah tridi milikmu, kuusap alismu, hidungmu, bibirmu. Aku tahu ini
kamu yang dihembus nyata oleh suhu tubuhmu dari situ. Kaupun sama, diam-diam
kamu mengelus pipiku, hangat tanganmu menjalar keseluruh tubuh, kugenggam
tanganmu erat. Supaya kamu tidak dengan tiba-tiba pergi begitu saja seperti
biasanya. Tapi lagi-lagi, kali ini aku tak merasakan degupan yang kencang di
dada. Semuanya hampa. Sampai akhirnya buli-bulir hangat jatuh membasahi pipiku
dan sepertinya tanganmu merasakan itu.
“Kamu menangis, ya?” Suaramu serak.
Aku menggeleng,
Sunyi,
“Kamu menangis, ya?” Tanyamu lagi.
“Tidak”
Kamu tertawa renyah, sambil mengusap
pipiku. Kamu berkata jika aku berbohong. Aku heran kenapa kadar kepekaanmu masih
sama saja.
“Disini dingin sekali,” Ujarku.
Tiba-tiba kamu memelukku erat, erat
sekali sampai rasanya aku susah untuk bernafas. Kamu mengelus-elus punggungku, hangatnya tubuhmu membuatku
merasa aman kembali, sampai aku lupa daratan. Sampai aku lupa ocehan-ocehan
ibu. Sampai rasa takutku untuk berubah menjadi batu saat tak mendengar ucapan
ibu sirna. Kamu, sukanya seperti ini. Memberi rasa aman, tiba-tiba langsung
pergi. Tapi, saat ini kamu berbeda, pelukanmu seperti ingin memberi tanda bahwa
kamu tak akan pergi meninggalkanku lagi. Kamu berkata lirih di telinga,
“Aku tahu ini kamu, aku tahu ini wangi
parfummu, aku tahu wangi apel ini berasal dari shampo yang kamu gunakan,
biarkan seperti ini 5 menit saja. Kumohon,”
“Kenapa 5 menit saja? Ayo kita pulang,
kita bisa berpelukan kapan saja” Jelasku padamu.
“Tidak bisa, aku tak tahu harus
kemana, aku yakin kamu juga begitu. Semuanya gelap, aku tak bisa melihat
apa-apa, aku hanya bisa merasakan wangi shampo milikmu”
Hampa,
lagi-lagi semua yang kurasakan hampa hingga tiba-tiba secercah cahaya
lewat tepat didepan kita, sampai tubuh siluetmu kini nampak jelas di mataku. Kacau,
kamu berdarah-darah, bajumu koyak, mukamu penuh dengan lebam, tapi tunggu,
“Ada apa dengan matamu?” Tanyaku takut
sambil mengusap lingkar mata yang kosong tanpa bola matanya.
Kamu tersenyum, “Kan sudah kubilang,
semuanya gelap. Yang aku rasa hanya harum wangi apel dari rambutmu”
Aku tertawa heran, tambah bingung.
Sampai akhirnya semua yang ada disekitarku berputar cepat mengelilingiku.
Tiba-tiba kamu pergi lagi, menghilang begitu saja. Aku takut, takut tiba-tiba
menjadi sosok malin kundang yang selalu ibu ocehi tiap kali aku tak mau
mendengarkannya. kepalaku pusing, perutku mual dan dadaku sakit. Sakit sekali.
Sampai aku tersungkur ke tanah lembab ini, meringis kesakitan sendiri.
Kupukul-pukul dadaku agar rasa sakitnya hilang, kutarik-tarik rambutku agar
rasa pusing ini berkurang. Aku menangis kesakitan lagi, sampai aku tersadar, ku
meraba tubuhku hingga berhenti tepat di
dada sebelah kiriku. Hampa. Kosong. Tidak ada suara.
“Jantungku tak berdetak, sedari tadi” Ucapku
lirih, sangat lirih. Aku tahu apa yang sedang terjadi saat ini sampai akhirnya
tiba-tiba semua berubah menjadi debu.
*****



Yow next!!
ReplyDeleteProud of youu
ReplyDeleteIni aku, terima kasih membuat menjamah dan menguras otak dan hati.
ReplyDeletelanjutane kapan iki ��
ReplyDeleteProud of youuu, dabess
ReplyDeleteKereeeennðŸ˜ðŸ˜ sukses biii
ReplyDeleteGa kuatt bagusss bettt ðŸ˜ðŸ˜
ReplyDeleteKaren biiik
ReplyDeleteKerenn bikk, aku beneran ngebayangin ini loh, deg2an baget
ReplyDelete