Antologi: Selasa, kala Itu
PART I: Kala Itu
Malang, 13 Mei 2017
Aku masih ingat betul, Ben. Hari itu hari selasa, kala itu ibu membekaliku sepotong ikan lele goreng dan tumisan kangkung. Tak
lupa ibu juga selalu memasukkan botol putih silinder itu kedalam tas maroonku.
Seperti biasa, sebelum berangkat kucium dulu tangannya, meminta restu. Restu
supaya proses mengemban ilmuku diberkahi oleh-Nya.
Hari itu hari selasa, bukan seperti
hari-hari biasanya di sekolah, sebab kelas kita dilanda jam kosong, tidak ada
proses belajar mengajar di kelas kita. Hari itu adalah hari bebas untuk kita,
murid-murid kelas 10, 11 dan 12 IPS 1 dan 2 untuk berlatih memaksimalkan
penampilan kami didepan para guest teacher yang berasal dari beberapa negara
3 hari lagi.
Hari itu, dari pagi sampai siang kami
berlatih mengerahkan seluruh tenaga yang kami punya. untuk menampilkan beberapa tarian daerah, orkestra hingga drama musikal. Serta mempersiapkan segala keperluan atau properti untuk
tampilan-tampilan kami nanti. Pada saat itu, aku masih duduk di kelas 11, awal
mula ketika manik mata milikku dan milikmu bertemu, hingga segalanya berujung
pada candu.
Kala itu aku sendiri termenung di
kelas, lelah setelah seharian berlatih menjadi MC untuk acara 3 hari kedepan.
Aku duduk di kursiku yang tepat sekali berada di didekat jendela, ku memandang
keluar jendela mencari fokus yang beberapa menit lalu menjadi atensiku, kutatap
lekat satu persatu teman-temanku yang sedang menata panggung utama yang sengaja
disiapkan oleh pihak sekolah di lapangan basket. Supaya udara kota Malang yang
sejuk ini bisa masuk tanpa perlu permisi kepada tuan rumahnya. Atensiku
berhenti ketika kulihat kamu yang sibuk memotret kegiatan teman-teman
menggunakan kamera digital itu. Rupawan. Pikirku.
Sampai ketika ketua angkatanku datang
mengejutkanku, “Kamu sedang memperhatikan apa sih, Nyo?”
“Tidak, bukan apa-apa.”
“Yasudah kalau seperti itu. Aku hanya
ingin memberitahumu. Karena kamu sekretaris angkatan. Tolong ya nanti kamu data
siapa saja yang setuju untuk membuat buku tahunan sekolah kita di percetakan
milik ayahnya Adi. Tolong sekali, setelah jam 12 nanti kita akan kumpul bersama
di kelas kita.”
“Buat apa?”
Dia berdecak, “Ck, kita kumpul untuk
membahas ini Nyo. Yasudah, aku pergi dulu. Oiya, jangan lupa minum obat kau
setelah makan siang ini.”
“Tapi Gas, bukannya anak-anak sedang
pada sibuk mempersiapkan segala hal untuk acara besok? Lihat tidak ada orang di
kelas ini kecuali aku dan kamu” Tanyaku pada Bagas.
“Ya, kau keliling saja mencari mereka
dan tanyakan satu-satu. Tolong sekali ya. Jika aku bisa aku yang melakukan ini
sendiri, Nyo. Tapi sayangnya aku tak bisa. Ada urusan super mendadak saat ini.
Kumohon..” Bagas memelas padaku.
“Yasudah, oke”
*****
Saat ini sudah pukul 1 lebih.
Anak-anak angkatan kami sudah berkumpul penuh sesak di kelas yang sepertinya
hanya bisa menampung setengah dari kami saja. Sumpek. Rame. Riweuh serta
berisik menjadi satu. Aku yang pada saat itu merasakan lapar yang tak
terkalahkan serta lelah yang teramat sangat sebab menjalankan tugas yang
dititahkan langsung dari ketua angkatanku langsung pusing dibuatnya, untung
saja, aku yg pada saat itu duduk di meja depan sambil membawa bekal ikan lele
goreng dari ibu langsung meminta izin kepada teman-teman agar rapatnya bisa ku sambi
dengan makan siang. Dan teman-teman
mengizinkan juga. Rapat berjalan dengan “tak baik-baik saja” Mengumpulkan 50
anak dalam waktu singkat itu mustahil. Namun selama menit berjalan, retina
mataku tiada henti-hentinya menatapmu, kamu yang saat itu sibuk mengutak atik
layar kotak itu dengan diam, sambil sesekali cengengesan dengan anak putra
lainnya. Manis, pikirku. Aku yg saat itu memegang wadah bekal dengan niat ingin
melahapnya, kuhentikan sejenak. Menikmati atmosfer menyenangkan yang ada di
depan mata.
Sampai akhirnya 50 anak terkumpul di
kelas yang tak begitu besar ini. Dan bukan main! kamu membuka rapat ini,
disebelah kananmu ada Bagas yang menemani. Oh, rupa-rupanya kamu yang mengurus
semua proses pembuatan buku tahunan sekolah ini. Dengan gagu, kamu membuka
rapat, sesekali retina kita bertemu. Aku yang salah tingkah.
"Selamat siang teman-teman, jadi
untuk pembuatan BTS ini semuanya aku yang handle. Oke kan?" Tanyamu
grogi.
Lucu sekali kenapa kamu tiba-tiba gagu
seperti itu, padahal kami yang ada dikelas ini benar-benar memperhatikanmu, sampai-sampai niat awalku
yang ingin menyambi rapat dengan makan siang aku urungkan kembali.
"Bagaimana ya ini, aku bingung
ingin berkata apa" Jelasmu polos sekali.
Atmosfer kelas menjadi sunyi dan kaku,
apa-apaan sih kamu, hanya ingin memberi pembukaan saja groginya minta ampunn.
"Setelah ini… apa yang harus aku
lakukan?" Tanyanya dengan grogi kepada Bagas.
Aku gemas melihat polahmu dan reaksi
teman-teman yg "krik krik" Akhirnya aku lontarkan kalimat dengan
niat hati ingin menjawab pertanyaanmu.
"Setelah ini apa? Aku seorang MC
biasanya setelah salam akan ada sambutan. Nah kamu dan Bagas silahkan
sambutan dulu. Daripada bingung seperti ini"
Jeg.
Kamu tersenyum menahan tawa, retinamu
tak henti-hentinya menatapku. Tiba-tiba suara gelak tawa lepas terbang ke udara
kelas ini. Tak terkecuali kamu, yang begitu puas tertawa sambil sesekali menunjukku
dan menyebut-nyebut namaku. “Sinyo… Sinyo..”
Melihat kamu tertawa puas serta senyum
manismu yg mengembang, rasa ikan lele goreng buatan ibu tidak ku hiraukan, serta
rasa lapar yg begitu kuat aku rasa mendadak hilang begitu saja, melihatmu
tersenyum dan tertawa karena guyonanku membuat aku lupa daratan. Hingga yang
kurasa lapar teramat sangat mendadak menjadi kenyang.
Meski hanya sementara, sebentar, kebahagiaan tetaplah
kebahagiaan. Seperti sesuatu yang kamu rasakan saat memotret teman-teman atau rasa ikan lele goreng dan tumisan
kangkung buatan ibu. Perasaan tersebut mungkin hanya sementara. Namun, tetap
saja hal yang sementara itu adalah sesuatu yang nyata adanya. Aku harap
kebahagiaanku tak hanya sementara. Kebahagiaanku tak hanya sebentar.
Semoga kamu masih ingat dengan ini ya, Ben.



Lanjutken, bikin kepok ajee
ReplyDeleteWadaw
ReplyDeletePenulis menulis ketika sedang jatuh cinta sejatuh jatuhnya dan saat sedang sakit hati karena cinta sesakit sakitnya. Ya kan?
ReplyDeleteMon maap author jomblo
DeletePunteen.....
Delete