Antologi: Selasa, kala Itu
PART II: Seharusnya
Kamu Tahu
Malang, 03 Maret 2019
Ada yang berkata jika jatuh hati
ibarat menyelam ke dalam laut, maka tenggelamlah setenggelam-tenggelamnya.
Nikmati sensasi sesaknya hingga kita kesulitan bernapas. Kalau ingin jatuh
cinta, jatuhlah sejatuh-jatuhnya. Andai terasa sakit, tak ada penyesalan karena
kita telah memberi yang terbaik. Kalau kehabisan napas saat berada di dasar
laut hatinya, tak ada penyesalan karena kita telah melihat dasarnya cinta.
Seperti halnya hari ini, panasnya
lapangan upacara sekolah ditambah amanat-amanat yang keluar dari bibir para
guru untuk kami, yang sebentar lagi akan lulus sekolah tak bisa membuat aku
tenggelam dalam beribu nasihat yang dikeluarkan. Otakku serta badanku lebih
memilih untuk berlindung dari kepanasan. Dan kebetulan, badanmu yang tinggi cukup untuk melindungi diriku dari paparan sinar matahari yang
berada diposisi timur. Sesekali aku menengok ke arahmu, mendongak sedikit, lalu
menyaksikan dengan nyata hidung tridimu dalam diam.
“Apa kamu lihat-lihat. Aku memang
tampan, jangan seperti itu” Ucapmu mengagetkanku sambil cengengesan tapi masih
dalam posisi menatap lurus kedepan.
Akupun sama, hanya bisa senyum-senyum
malu. Kamu sukanya begitu, Ben. Selalu memberi ruang aman bagiku. Tapi hanya
sekedar rasa aman yang kau beri. Aku tahu, rasa-rasa picisan yang lain
sebagainya bukan untukku. Aku tahu itu.
Sejak hari itu, saat kamu tertawa
seperti orang kesetanan hanya karena aku memberi guyonan sedikit kepadamu, kamu
lebih sering mendekatiku, menelponku tiap malam. Menanyakan kabar. Kamu sering
menghubungiku lewat chat whatsapp, mengingatkanku tentang ini itu,
apalagi saat kita bekerja untuk mengurusi Buku Tahunan Sekolah kita. Tiada hari
tanpa menyemangatiku. Sampai tiba-tiba, aku merasakan hal aneh, seperti
rasa-rasa yang Mita, Lusy dan Arumi rasakan waktu mereka suka sekali
memperhatikan kakak kelas. Deg-degan, nyaman dan aman. Tapi, saat
atmosfer ini sedang aku rasakan. Sisi keegoisanku ingin menang, aku egois. Aku
ingin tahu apa sebab kamu bertingakah seperti ini padaku? Aku ingin kamu
mengetahui bahwa aku nyaman dan aman bila ada didekatmu, aku senang bila kamu
menelponku tiap malam walau hanya ingin menanyakan kabar, aku senang jika notif
whatsappku penuh dengan omelan-omelan serta perhatianmu. Tapi, betul
kata orang-orang. Tak semua hal harus kita pertanyakan jika kebenaran yang akan
kita dapat malah membuat kita terluka.
Malam itu aku memberanikan diri untuk
bertanya padamu lewat telepon, tapi rasa penasaranku kalah cepat dari
pernyataan yang kamu berikan padaku. Kamu berkata kalau besok saat pelajaran
olahraga kamu akan menyatakan perasaanmu pada Arumi, temanku. Kamu menyebut
sederet fakta dan hal-hal yang Arumi suka kemudian kamu memintaku untuk
mengoreksinya.
“Kamu kan teman baik Arumi, tolong
koreksikan ini ya, kumohon”
Benarkan, harusnya aku tidak
penasaran.
*****
“Tak terasa ya, kita sudah mau lulus
dari tempat ini” Kamu membuka obrolan.
“Namanya juga waktu, Ben. Berjalan
maju kedepan” Jelasku.
“Ya
tapikan tiga tahun masa putih abu-abu kita Nyo, tiga tahun kita akan berakhir”
“Ya terus kenapa, Ben?”
“Masa kamu tidak merasakan apa gitu Nyo?”
“Merasakan apa? Sudah ah aku malas
meladenimu, lagian kamu kenapa sih tiba-tiba membahas hal-hal klise seperti
ini. Norak tahu” Ucapku jengkel.
Kamu loncat dari meja besar yang sudah
tak terpakai itu, “Ish! Dasar cewe nyebelin, pantas saja belum ada cowo
yang mau mendekatimu” Kamu mengacak-acak rambutku gemas.
“Ih kamu reseh sekali
sih Ben. Nanti kalau Arumi tahu bagaimana? Kamu siap putus dengan dia?”
“Aku sudah putus dengan dia” Jawabmu
singkat.
Tiba-tiba kamu menggiringku untuk
melihat pemandangan kota Malang dari ketinggian rooftop sekolah kita,
angin yang semilir berhasil mengganggu anak rambut yang ada di kepalaku.
“Makanya, kalau sudah tau mau aku ajak
ke rooftop kamu bawa bando atau ikat rambutmu dong. Dasar bandel”
Aku mendengus, itu bukan hal yang
penting Ben.
“Sejak kapan kamu putus dengan Arumi, Ben?”
“Dua hari yang lalu,”
“Kenapa?”
“Kita tidak cocok”
“Klise”
“Sungguh, Nyo”
“Kamu sendiri Nyo? Masa 3 tahun penuh
kamu tak ada niat untuk dekat dengan siapa gitu, teman-teman kita kan tampan
dan pintar, masa kamu tidak tertarik dengan mereka sedikitpun?”
“Buat apa tampan dan pintar kalau aku
tak tertarik Ben?”
Kita diam, hanya ada suara angin
semilir yang menemani kita, dalam diam aku berperang pada hatiku, aku percaya
kamu melakukan hal yang sama. Kita sama-sama diam tapi pikiran kita begemuruh
ingin bersuara.
“Aku? Aku nanti-nanti saja Ben,
sebenarnya ruang hatiku masih penuh denganmu” Ujarku, dalam hati. Tentu, suara
hatiku hanya boleh kuteriakkan dalam pikiranku saja. Saat ini.
*****



Ah sebel wee, pengen dateng ke rooftopnya teros bilangin ke masnya kalo mbaknya suka sama masnya
ReplyDeleteAh sebel wee, pengen dateng ke rooftopnya teros bilangin ke masnya kalo mbaknya suka sama masnya
ReplyDelete