Opini: Perempuan yang Memanusiakan Perempuan

(Sumber foto: Twitter @kepopedia)

Perempuan yang Memanusiakan Perempuan

                Tiga hari sudah linimasa media sosial dipenuhi oleh hastag atau cuitan  seorang  influencer muda yang membagikan keresahan melalui sebuah utas di twitter pribadi miliknya yang menurutnya menyebabkan “polusi visual”

Lo pernah ga sih liat orang ngegym, terus pede bener pake sport bra + celana pendek yang pantatnya keliatan separo tapi polusi visual aja buat mata lo. Perih bener.— dek vina (@tucarino_) 

                Cuitan tersebut tentu menuai berbagai kontroversi, banyak netizen yang mulai meramaikan utas twitter miliknya. Body shaming. Toxic positivy. Insecurities  dan lain-lain. bukan tanpa alasan jika netizen Indonesia berama-ramai mengomentari cuitannya tersebut. Pasalnya influencer tersebut kerap sekali mengkampanyekan tentang selflove dan woman supporting woman.  

Dan disini gua akan menumpahkan segala keresahan gua sebagai netizen yang lumayan aktif di sosial media. Melihat kejadian itu, awalnya gua sempet mikir. “Sebenernya woman supporting woman itu ada gak sih?” “Sebenernya perempuan yang standar kecantikannya gak sama kayak orang-orang good looking itu beneran cantik gak sih?” “Kenapa cobak sekelas influencer yang suka ngampanyein selflove woman supporting woman malah dia sendiri yang beropini tapi jatohnya malah attack personal?” mungkin, temen-temen yang baca tulisan ini ‘pernah’ berpikir hal yang sama.

"Lah kenapa emosi? Mata-mata gue, gue juga nggak ngebully dia. Munafik banget semua harus dibilang pretty. :)) nyatanya emang enggak semua cewek cakep, lo mau ngegym badan belom bagus, ya sama badan gue juga jelek. Tp pantat jangan diliatin ke orang dong,” — dek vina (@tucarino_) 

Mari kita lihat benang merahnya “Apakah akan menjadi munafik jika kita melihat semua wanita itu cantik?” bagi gua. Nggak. Nggak sama sekali. Mungkin omongan gua ini bakalan terdengar klise dan familiar di telinga kalian. Kalau, SEMUA PEREMPUAN MEMILIKI DEFINISI DAN STANDAR CANTIK YANG BERBEDA. Kita gabisa matokin standar kecantikan orang lain ke diri kita. Our body isn’t our faults. Ada orang yang emang terlahir dan emang dapet gen yang sempurna.Dia akan memiliki kulit  Putih, badan tinggi, tubuh ramping, hidung mancung. Ada juga yang dari lahir emang mereka gak dapet gen yang bagus. Tapi, alhadulillahnya mereka punya rezeki buat perawatan ke dokter kulit atau ke klinik kecantikan dan mampu beli skincare yang harganya bisa dipake buat beli Iphone 11. Ada juga yang mampu perawatan dan beli skincare tapi sayangnya produk-produk yang dia pake gak cocok terus, hormon biasanya jadi faktor x nya. Ada juga, yang emang dri lahir gak dapet jatah “standar kecantikan people good looking” dan merananya  gak ada rezeki atau gak bisa memprioritaskan perawatan dan beli skincare untuk dirinya. Hasilnya, ya gak berharap banyak. Intinya  “ya gua udah berjuang buat mempercatik diri gua. Gua udah pake ini itu biar gak jerawatan. Gua udah pake deodorant yang ini itu biar ketek gua gak bulukan. Gua udah nyoba cream yang diendorsein sama Nikita Willy biar area-area sensitif gua gak item.gua udah beli obat pelangsing, gua udah beli obat peninggi badan. Tapi ya, perjuangan menuju ‘cantik’ versi people good looking emang  gak mudah”

 jadi, apa gunanya matokin standar kecantikan orang buat diri kita. Semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Pepatah ini gak cuman berlaku buat keterampilan doang. Tapi untuk definisi kecantikan juga berlaku. Jadi buat apa kita mengomentari, ngejudge atau berbagi keresahan tentang  fisik orang lain  kalau ujung-ujungnya malah jadi shamed specific body parts. Apalagi kita umbar toxicity in public. Penontonnya banyak, kekuatan Internet of Things sist. walaupun gak nge spill “siapakah perempuan yang  berpantat item” itu. Tapi tetep aja,  followers dan netizen yang liat akan jadi insecure, takut ke gym dan lebih parahnya lagi mereka bisa jadi ga percaya sama kekuatan woman supporting woman. Apalagi ketika kita udah ngasih statement di depan public dan setelah itu kita berlidung dibalik kalimat “bebas berpendapat” actually for me concept “freedom of speech” isn’t means that “you can be as rude as you want and we’re not allowed to get med” absolutely not. Gua suka ketika orang bebas ngeluarin kegelisahannya. Berani berkritik. Tapi setelah melihat  kejadian ini gak semua hal bisa kita kritik di didepan publik. Dipilih-pilih dulu.  Apalagi di sosial media yang interaksi sosialnya besar banget. Harus ada batasan juga. Kalo mau bahas hal-hal yang spesifik, menurut gua si mending diomongin di forum sendiri aja. Biar jatohnya gak toxicity public.

Gua paham, jika keresahan yang kita rasa lalu kita ungkapkan itu pasti bakal terbayar, entah terbayar oleh orang yang sepemikiran dengan kita  jadinya kayak ngerasa senasib sepenanggungan atau yang lainnya. Juga, bagi gua  jika kita ingin merasa jujur dengan diri sendiri atau gak munafik dengan apa yang orang lain bicarakan soal standar kecantikan dan membuat kita melemparkan opini dan menulisnya di publik itu gak selamanya salah. Tapi alangkah baiknya, jika kita melihat itu dari perspektif yang berbeda. Kalau kita ngerasa gak nyaman dengan apa yang kita liat, ya tegur aja kalau sanggup. Tegur aja kalau kita sama-sama mampu buat nerima. Kalau gak bisa mending diem aja. Sambil berkaca memanusiakan manusia itu sesimple itu ya. Cukup gak berkomentar atas apa yang ada didiri orang lain. Udah. selesai. Percaya gais, di era serba modern ini, dimana kita dikelilingi teknologi yang super canggih, buat akses ini itu gak sesuah zaman dulu, CANTIK itu gak sekadar soal fisik. Jadi pintar, bisa bikin sambel, bisa nyetir mobil. Bisa manjat pohon kelapa. Bisa jadi orang kantoran. Bisa jadi pemimpin itu cantik. trust me, cause you’re beautiful just the way you are.   

Dear mba Revina.. ini kegelisahan saya yang saya balut dengan konsep “Freedom of Speech” juga dari saya yang lagi berjuang mati-matian biar jerawat di muka saya ilang, yang lagi mati-matian buat ngerampingin badan, juga yang sedang berjuang mencintai diri sendiri dan memakai standar kecantikan versi saya sendiri. Dear mba Revina… kalau sekiranya susah untuk bersimpati dan berempati mending jangan seenaknya untuk mengomentari.

Semoga kita semua bisa berdamai dengan semesta ya..:)


Comments

Post a Comment

Popular Posts