Antologi: Selasa, Kala Itu


Part III: Singkat Cerita

Kemebul asap sate taichan depan UB ini memang candu ya Nyo, seperti biasa malam minggu di penghujung bulan ini pasti kita selalu menyempatkan waktu untuk pergi berdua. Ke angkringan, kamu biasanya memesan es jeruk nipis, sedangkan aku lebih suka memesan wedang uwuh hangat. Di angkringan milik pak Unyil ini biasanya kita menghabiskan berpuluh-puluh menit hanya untuk mendebatkan banyak hal, seperti sekarang, kita berdua mendebatkan hal yang sebenarnya tak begitu penting. Kamu bilang makan indomie  kuah itu lebih cocok kalau telurnya setengah matang, karena akan ada sensasi legit yang akan dihasilkan oleh kuning telur itu sendiri, tapi aku menyangkal Nyo, dulu sewaktu kecil,  ketika waktu makan pagi tiba dan mamak menyuapiku dengan nasi hangat dicampur kecap lalu telur mata sapi, seingatku mamak  tak pernah menggoreng telur mata sapi setengah matang, harus benar-benar matang katanya, kalau mamak  membuat telur mata sapi setengah matang, telur yang aku makan tersebut masuk kedalam perut, lalu didalam perut hangat, takutnya hangatnya perut bisa membuat telur tadi merasa dierami induknya, lalu nanti malah berubah menjadi ayam. Saat mamak cerita seperti itu, sampai sekarang aku tak suka makan telur mata sapi setengah matang Nyo, takut. Sama halnya ketika rasa takutmu akan mejadi batu jika kamu tak menuruti perintah ibumu saat sekali saja lupa membawa obat-obat di botol silinder itu.

Berbicara soal takut, aku takut hubungan ini tiba-tiba hilang Nyo, hilang tanpa sempat mengucapkan selamat tinggal meski hanya sebentar. Aku tak takut Nyo jika kamu yang hilang. Bagiku, hilangnya dirimu dari pandanganku adalah ujian, ujian untukku akankah aku mampu mencarimu sampai mana-mana. Aku hanya takut hubungan ini tiba-tiba berhenti karena lain hal.

*****

“Ibumu suka makan martabak kan Nyo?”

“Iya, tapi tidak dengan rasa yang neko-neko ya Ben”

“Hah maksudnya?”

“Iya, ibu gak suka kalau martabaknya dikasih keju dan susu, dia cuman suka martabak kacang dan ketan hitam saja”

“Haha, yasudah habis ini, aku ajak kamu beli martabak kesukaan mamakku dulu ya”

“Mamak nitip beli martabak?”

“Nggak, martabaknya untuk ibumu, sudah ayo!”

Martabak manis ketan hitam tanpa susu kini sudah berada di genggamanmu, lalu kita membawa nya kerumah ibu. Kita hening menikmati semilir angin malam ini. Aku teringat ucapanmu di angkringan tadi, kamu bilang bahwa sekarang mungkin ibu dan mamak tidak bisa dikenalkan dengan tatap muka, bersalaman, cepika cepiki, mengobrol, bergosip tentang harga cabai dan bawang yang naik di pasar seperti ibu-ibu yang ada diluar sana, kamu bilang tidak apa-apa. Mungkin belum waktunya. Makanya aku mengajakmu membeli martabak kesukaan mamak, supaya ibu bisa merasakan apa yang di sukai oleh calon besannya nanti, setidaknya berkenalan lewat makanan kesukaan untuk sekarang akan jauh lebih baik. Kali itu aku tak mau mendebatkan omonganmu, kamu benar Nyo. Kita memang berbeda, perbedaan kita mungkin terlihat sederhana, sesederhana perbedaan pintu gerbang rumah kita. Di pintu gerbang rumahmu aku disambut oleh bel mewah, sedangkan di pintu gerbang rumahku, kamu akan menyaksikan stiker-stiker LUNAS PBB yang ditempel oleh bapak setiap tahunnya. Kalau aku kerumahmu ada si Mochi putih yang selalu menggonggong jika ada orang asing yang masuk, kalau di rumahku setiap jam 9 pagi dan 9 malam si Jalu rutin berkokok. Begitulah perbedaan yang sederhana dari kisah picisan kita, tapi bukan itu permasalahannya. Ada banyak perbedaan di dunia ini Nyo, yang memang susah dan hampir mustahil untuk kita satukan. Mengenai bel mewah, kamu selalu mewanti-wantiku untuk setiap kali ingin  berkunjung kerumahmu jangan sesekali bersuara, cukup pencet saja belnya. Seperti saat ini Nyo, aku dan kamu sudah sampai di rumah bercat krem tempatmu tinggal sekarang. Seperti biasa, aku disambut bel mewah, bel mewah itu adalah instrumen kesadaranku mengenai perbedaan yang mustahil untuk disatukan. Saat kutekan, otomatis bel itu akan mengeluarkan suara baritone yang nyaring “HALELUYAA” lalu saat gerbang dibuka, mochi dengan gongongan khasnya akan menyambut kita. Tak lama juga aku sadar mengapa kamu suka menyuruhku untuk pencet saja belnya dan jangan bersuara, kamu takut aku malah mengucapkan “Assalamualaikum” kan?

“Aku ingin mengikatmu dengan basmalah, namun kamu ingin mengetuk pintu hati ibuku dengan haleluya, sudah kubilang kita berbeda Nyo”

 

 


Comments

  1. Anonymous21.10.20

    Damage anjirr

    ReplyDelete
  2. Ada lanjutannya kah?

    ReplyDelete
  3. Papicholulili22.11.20

    Tetap gasss menjalin hubungan walau tak seiman

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular Posts