Antologi: Selasa, Kala Itu
Ini tentang
Mara
“Mara, jangan mau kalah sama
air mata”
Kalau
saja seonggok manusia yang berada disampingnya ini tidak sadar dengan keadaan
yang sedang terjadi, rasanya sumpah serapah ingin ia keluarkan sekarang.
Tolol.
Bodoh.
Gila.
Seperti itulah
kata-kata kasar yang ingin ia ucapkan sedari tadi, pasalnya gadis seumuran yang ada disampingnya ini hanya
menangis, melamun, kemudian menangis lagi dan melamun lagi. Tidak ada sepatah
kata yang diucapkannya. Saat ditanya, si gadis hanya menoleh sebentar. Cengo.
Lalu balik melamun lagi.
“Mara, jangan diem terus,
dipikir duduk diatas rerumputan yang gak rata kayak gini gak capek apa?”
“Ssst, diem bentar!”
Bagai laksana
titah sang ratu, si lelaki kini ikut diam, terbawa suasana. Satu hal yang diketahui
oleh lelaki itu bahwa gadisnya sedang tidak baik-baik saja, dan sepertinya ia
tahu mengapa gadisnya mengajak duduk diam di tepian danau kota ini. Biasanya,
jika gadisnya sudah membawa ia ke danau ini, maka sudah dipastikan si gadis
akan jauh lebih uring-uringan, menangis sesegukan, atau berteriak sambil
menyanyikan lagu-lagu korea kesukaannya. Tapi kali ini tidak. Justru suasana
horror dan mencekam yang ia dapatkan. Terlalu sunyi, ditambah danau kota disini
tidak terlalu ramai di jam-jam saat ini.
“Coba cerita, sekarang dalam
konteks apaan?” si lelaki mencoba memecah keheningan, ia sudah tidak tahan.
“Mar, ngomong dong…”
“Aku capek, Haru“
“Sakit---“
“Penat---“
“Harus gitu kabur?”
“Iya, biar bisa sama Haru”
Mara tersenyum getir, Haru lega melihatnya. Sungguh.
“Mau sampai kapan kamu biarin
dunia kamu ancur, Mara?”
“Hhhh, dunia aku emang udah
ancur Haru, dari dulu, kamunya aja yang gak tau”
Haru membisu.
Kini ia merasa tertohok atas ucapan sahabatnya ini. Selama mereka berteman,
Haru tak begitu tahu menahu soal masalah Mara, bahkan Haru sering merasa gagal
untuk membuat mara –Sahabat baiknya ini terbuka. Kecewa, sudah pasti. Tiba-tiba
haru melihat daerah pergelangan tangan Mara yang merah, ada bekas luka sayatan
yang tampak sedikit membengkak. Ia ingin marah. Emosinya sudah diujung kepala.
“Hehe abis ini aku gak bakal
kayak gini lagi kok, Ru. Janji, beneran” si pemilik luka merasa tertangkap
basah atas perlakuannya, Mara berbicara duluan sambil membenarkan baju lengan
panjang yang ia gunakan agar pergelangannya tertutup dengan sempurna.
“Mar.. janji juga, kalo ada
apa-apa cerita ke aku aja gapapa, kalau kamu kesel sama sesuatu pukul aku aja,
jangan lukain diri kamu”
“Kan udah kubilang Ru, aku udah sering kayak gini, aku gapapa, hidupku emang udah hancur—
kecuali kalau aku bareng kamu,
kayak gini”
“Ayo diobatin dulu”
“Udah, Haru”
“Kok masih bengkak?”
“Ya aku mana tau, udah aku obatin
di rumah, obatnya juga di rumah”
“Yaudah ayo pulang ke rumah”
“Gimana sih? Kan aku
lagi kabur”
“Tapi distraksi bukan solusi,
Mara”
“Ssst mending diem dulu, liat
tuh langitnya indah banget kan? Terlalu indah buat bahas gundah”
Ini tentang
Mara, tentang gadis yang merasa dunianya hancur dan memilih untuk selalu kabur
kemudian melukai dirinya sendiri, Mara terlalu takut untuk menghadapi dunia
yang besar padahal Haru selalu bilang kalau Mara gak terlalu kecil untuk
menghadapi masalah hidupnya. Namun, Mara ya tetap Mara, ia ingin sesekali egois
katanya. Sama dengan perasaan Mara dengan Haru selama ini, Mara egois, Mara
ingin Haru mengagapnya bukan hanya sebagai “sahabat baik” saja, Mara mau lebih
dari itu. Selain merasa diri paling egois Mara juga menganggap dirinya paling
cupu. 5 tahun bersama Haru, lidah Mara selalu kelu jika hanya ingin
mengungkapkan isi hatinya. Mara benci, sungguh.
Mara tiba-tiba memberikan
salah satu airpods nya kepada Haru, “Mau dengerin lagu..”
“Korea teroooosss”
“hehe”
“Aku gak paham artinya apaan,
Mar”
“Yaudah dengerin aja bawel”
Now Playing IKON – BEST FRIEND
내게 위로해 달라는
너
(Naege wirohae dallaneun neo)
Kau memintaku untuk menghiburmu
너
아니면 나 중
한 명은 바보
(Neo animyeon na jung han myeongeun babo)
Kau atau aku, salah satu dari kita adalah orang
bodoh
떠나지도
다가가지도 못하고
(Tteonajido dagagajido mothago)
Kita tak bisa pergi ataupun saling mendekat
…..
아이야야 니가
그저 꿈이라면
(Aiyaya niga geujeo kkumiramyeon)
jika kau hanya bermimpi
예쁘고
슬픈 꿈이라 할
텐데
(Yeppeugo seulpheun kkumira hal thende)
Aku akan mengatakan itu adalah mimpi yang indah
dan menyedihkan
Why 야이야 그
달콤한 목소리로
(Why yaiya geu dalkhomhan moksoriro)
Mengapa dengan suara manismu itu?
넌
내게 말해
(Neon nage malhae)
Kau mengatakan bahwa
You are my best friend
Kau adalah sahabat terbaikku
“Mara,
makasih ya udah mau jadi sahabat baik aku”
Mara
menatap haru lekat, tersenyum lalu mengangguk pasti, ia menyenderkan palanya di
bahu tegap sahabatnya ini. lalu tiba-tiba ia menangis dalam diam.
“Dasar
egois, cupu, lemah lagi”



ebooy dosa kagak si gua bayangin si Haru ini Haru Watanabe. anjiiirrrrr :(
ReplyDeleteYa emang haru watanabe pkok 😘😭👎
DeleteWow she's back ��
ReplyDeleteYA ALLAH KECE SKALY ASKWMSUSMSMSKSMS JADIKAN INI CERPEN OF THE YEAR
ReplyDelete