Antologi: Selasa, Kala Itu

Songfic// Paul Blanco Ft. Crush - Believe

Ps// Search that's song on your music platforms and play while you read this, please! 

You Are The Cause of My Anchor

            Malam ini gemercik suara hujan tak henti-hentinya terdengar di telinga lelaki yang saat ini mulutnya komat-kamit, sesekali matanya terpejam, lalu kembali melirik layar gawai yang ada di tangannya, lalu mejam dan melirik gawainya kembali. Atensinya kini penuh seratus persen dengan apa yang ia dengar dan rapalkan. Iya, malam ini ia putuskan untuk menghafal lirik lagu yang tempo hari Mara sarankan kepadanya. Lagu milik Paul Blanco terputar jelas di gendang telinganya. Dalam hati ia bergumam, selera musik sahabatnya satu itu memang tidak pernah jelek. Selalu bagus. Mara tahu lagu-lagu apa yang cocok untuk megiringi hari-hari mereka. Mana lagu yang harus mereka dengarkan ketika suka dan mana lagu yang harus mereka dengarkan ketika duka. Jujur, jika bukan karena paksaan dan bukan karena pergerakan tiba-tiba dari seorang Mara yang suka memasang airpods miliknya ke telinga, maka bisa dipastikan haru tak banyak tahu menahu soal musik. Iya, ini emang kebiasaan Mara, Haru mengerti sekali dengan sahabatnya itu. Mara bukan tipe gadis yang banyak bicara, Mara itu misterius. Yang Haru tau dan pahami, hanya musik yang bisa dijadikan instrumental Mara untuk mengungkapkan isi hatinya.

Bukan tanpa alasan Haru merelakan menitnya untuk menghafal lirik lagu ini. setelah hasil konsultasi singkat yang ia lakukan dengan Mara tempo hari. akhirnya Haru memutuskan untuk membawakan lagu yang sedang ia hafalkan ini untuk kekasihnya. Sudah hampir tiga hari ia dan –Lea, kekasihnya tak tegur sapa. Biasa, masalah cinta monyet. Di saat tengah bergelut dengan lirik berbahasa korea yang dihafal. Tiba-tiba panggilan masuk mengehentikan musik yang sedang diputarnya. Mara. Iya, itu panggilan suara dari Mara.

“Iya, halo dengan rumah makan ayam penyet Hang Dihi.. ada yang bisa dibantu?” Sapa Haru dengan lawakan jayus.

Penelfon yang ada di seberang sana hanya diam. Pasif. Tidak ada suara Mara yang terdengar di gawai milik Haru. Haru sudah memencet tombol loud speaker, kali-kali emang suara gawainya yang bermasalah. Ternyata tidak. Tetap, lawan biacaranya tidak bersuara. Hening. Hanya ada suara deru nafas yang tak beraturan yang mulai terdengar.

“Halo.. Mara? ini Haru? Ada apa menelfon malam-malam begini?” tanya Haru yang mulai curiga dengan keadaan.

Detik berikutnya panggilan suara itu masih pasif, tidak ada kontak komunikasi yang terjadi diantara kedua orang tersebut. Sampai tiba-tiba Haru menjauhkan gawai yang digenggammnya ketika suara nyaring terdengar dari gawainya. Haru bingung. lantas ia mendudukkan dirinya di pinggiran kasur. Berusaha memanggil lawan bicaranya yang sampai saat ini belum mau bersuara.

“Mara, suara apa itu tadi? Kamu dimana? Mara baik-baik aja kan?” Haru memijat pelipisnya, pening. Jujur, ia bingung dengan keadaannya sekarang, ia juga bingung bagaiamana cara agar Mara mau bersuara.

“Tolong Mara, Haru…” Itu suara Mara, Haru sebisa mungkin bersikap tenang, ia mondar mandir mencari leather hitam serta kunci motor miliknya.

“Mara tenang ya, coba kasih tau Haru, Mara ada dimana sekarang?”

“Penatu”

***

 

 Haru bingung sekarang, rasanya masih kurang pantas jika tiba-tiba ia ikut campur dalam urusan keluarga orang. Ia ragu untuk melangkahkan kakinya masuk ke tempat itu. Tapi disi lain, ia pun sakit melihat dan mendengarnya. Sudah berapa kali ia mendengar jeritan suara perempuan yang masih asing di telinga, kemudian tak berapa lama suara-suara pecahan dan lemparan barang nyaring terdengar. Berbanding terbalik dengan apa yang haru lihat sekelilingannya. Di luar tempat ini sepi, entah memang tetangganya yang sudah pada beristirahat atau memang sudah terlanjur tidak peduli.

Lamunan Haru terhenti ketika kaca besar yang ditempeli stiker abjad bertulis “PENATU BANK” yang ada di depannya ini pecah. Melihatkan dengan jelas kondisi dalam rumah yang nampak kacau. Dengan keadan pria yang haru yakini, itu ayahnya Mara sambil memegang tongkat T hitam, mukanya merah padam, disebelahnya ada tiga botol beling berwarna hijau tua. Kemudian tak jauh dari pria itu ada sesosok wanita yang menangis, keadaannya acak-acakan, pipinya merah. Iya, itu sudah pasti ibunya Mara.  Haru diam, matanya panas, dadanya sesak. Ia heran, kenapa malah ia yang menangis. Dada haru sakit melihat apa yang terjadi barusan, pikirannya melayang kemana-mana, membawa atensi gadis sekaligus sahabatnya selama ini. Jadi ini keadaan yang selalu mara sembunyikan, mungkin ini alasan kenapa Haru selalu melihat luka-luka sayatan yang ada di pergelangan Mara, mungkin ini alasan kenapa Mara susah untuk mengungkapkan isi hatinya, Mungkin ini alasan yang  membuat Mara selalu mengeluh dengan kata “lelah” “penat” yang setiap saat Haru dengar, dan segala mungkin yang berputar-putar di kepalanya saat ini. Haru sibuk menepis pikiran anehnya itu, sekarang ia fokus mencari keberadaan gadis yang meminta tolong degan parau tadi. Hingga tiba-tiba pergelangan tangannya dicengkram kuat oleh seseorang.

“Ayok bawa aku pergi dari sini”

Itu Mara, sepertinya ia keluar dari dalam rumah kecilnya lewat gang sempit yang ada di sebelah sana. Haru tak bisa menahan Kristal bening yang ada di matanya sekarang. Air matanya mencolos keluar tanpa permisi ketika melihat keadaan Mara. Ujung bibirnya pecah, matanya sembab, pipi sebelah kirinya merah, dan di daerah pergelangan tangannya ada warna merah mencolok yang merembas di kaos panjang putih miliknya. Mara kacau, tanpa babibu Haru membawa Mara ke tempat motornya diparkirkan, memasangkan gadis itu helm lalu pergi melaju meninggalkan tempat itu, keduanya menghiraukan jeritan kata-kata kasar yang keluar dari mulut ayah Mara.

***

Sudah pukul 22 sekarang, namun keduanya tak memiliki niat sedikitpun untuk beranjak dari tempat itu. Sudah bermenit-menit keduanya bungkam. Yang satu sibuk mengobati luka-luka yang nampak. Yang satu sibuk berkalut dengan pikirannya. Suara deburan ombak malam menjadi musik yang menenangkan bagi keduanya. Mereka diam berdampingan di ujung geladak, merasakan setiap hembusan angin malam selepas hujan petang tadi. Haru menoleh ke arah mara. Entah ia dapatkan dari mana ikat rambut yang kini ia pegang. Tanpa suara ia perlahan menyibak dan merapihkan rambut panjang gadisnya itu. Pelan dan telaten. Menguncitnya menjadi satu dan merapikan anak rambut yang masih betah beterbangan. Haru diam menatap lekat wajah gadisnya. Sakit. Ia ingin menangis, sungguh. Tapi niatnya ia urungkan, ia tak mau menangis di depan orang yang benar-benar lemah ini. Perlahan ia menuntun agar kepala mara menyender di bahu tegap miliknya, kemudian memasangkan asal leather hitam miliknya di pundak Mara.

“Aku keliatan menyedihkan sekali ya, Ru?” Mara berujar parau, suaranya hampir kalah dengan deburan ombak.

Haru menggeleng, “Enggak Mara,”

Haru merasakan basah di kaos putihnya, gadis yang disampingnya menangis sesegukan, bahunya naik turun sambil menutup mukanya dengan kedua tangannya. Hancur sudah pertahanan Haru, air matanya ikut mengalir keluar. Sesaat Mara mendongak menatap lekat mata Haru, tangan Mara menghapus jejak air mata yang ada di pipi Haru.

“Kenapa jadi kamu yang nangis, Ru?” Tanya Mara mengejek.

Haru membuang mukanya kesembarang arah. Malu rupanya, “Karena kamu sedih aku juga ikut sedih, Mar. Karena kamu sakit aku juga ngerasa sakit, Mara..” Ujarnya pelan.

“Maaf ya Haru, aku udah bikin kamu sedih” Mara tersenyum kaku lalu dalam hitungan detik matanya kembali sayu.

“Nggak perlu minta maaf, kamu gak salah. Ini bukan salah siapa-siapa, bukan salah orang tuamu juga bukan salah keluargamu. Ini perihal takdir, Mara. Kita gak bisa memilih untuk terlahir dari orang tua atau keluarga yang seperti apa, tapi kita masih bisa memilih untuk menjadi orang tua yang seperti apa besok. Aku cuman mau kita lebih terbuka aja, tapi aku gak bakal maksa kamu buat terbuka secepat itu kok, aku bakal nunggu kamu siap, Mar”

Mara memandang Haru lekat, kemudian tersenyum penuh makna. Dada Mara menghangat, dipedulikan dengan orang yang ia cintai diam-diam merupakan hal yang baru. Harupun sama, ia menatap lekat manik coklat tua yang ada didepannya ini. Mencari-cari celah letak kebahagian yang ada di dirinya, kalau bisa waktu berhenti berputar, sungguh ia ingin melihat senyum hangat Mara selamanya. Haru semakin mengencangkan rangkulan di bahu milik Mara, meremasnya pelan, sambil menyalurkan kekuatan, sambil menyalurkan rasa nyaman.

Now playing (Paul Blanco ft. Crush – Believe)

Again, nothing worked out today

Don’t cry even if the world ignores your effort

I believe in you girl

I believe in you girl

Haru tak tahu apa yang dilakukannya ini salah atau tidak, sebab lagu yang seharusnya ia nyanyikan untuk kekasihnya, malah ia  nyanyikan untuk gadis yang ada di sebelahnya. Pelukan yang seharusnya ia berikan untuk kekasihnya, kini ia beri untuk gadis yang ada di sebelahnya. Haru merasa dirinya sedikit kurang ajar. Tapi hatinya selalu berkata dan selalu mendorong dirinya untuk selalu melindungi gadis ringkih yang ada disebelahnya, bukan karena kasihan, tapi benar-benar karena rasa.

Bagi Haru, Mara itu seperti lautan yang luas. Indah dan biru. Lengkap dengan segala keindahannya, lengkap dengan kesedihannya, juga rahasia dan rasa sakit yang disimpannya rapat-rapat. Ketika Haru mengira sudah sampai dasar, ternyata masih banyak hal yang terkubur dalam. Sampai-sampai Haru tak sadar atensi Mara terhadap dirinya sungguh kuat.

Bagi Mara, Mara boleh saja terombang ambing di lautan luas nan gelap yang kedalamannya tidak memiliki ujung untuk digapai. Mara boleh saja kehilangan arah dan tak tahu bagaimana cara kembali ke permukaan. Tapi selama ada Haru, Haru is the cause of Mara’s anchor.  Mulai detik ini, suara deep tone milik Haru saat menyanyikan lagu kesukaannya menjadi candu di telinga Mara, walaupun Haru sedikit lebih terdengar seperti bergumam, namun suara lembutnya bisa mengalahkan suara deburan ombak malam ini. Mara tersenyum dikala Haru masih terus menyanyikan lagu sambil merangkul erat tubuh ringkihnya, ia memohon kepada jutaan bintang di langit sana, hentikan waktu sekarang juga, izinkan Mara egois sekali ini saja.


Comments

Popular Posts