Opini: Urgensi Literasi Ekonomi Terhadap Economic Decision-Making di Kalangan Milenial
Bayangkan, jika kemarin kita memiliki 200 juta ribu jenis burung yang hidup aman dan damai di dalam sangkar yang besar. Namun kini, sangkar milik ratusan juta burung tersebut tengah dilanda bencana hebat. Bukan bencana seperti gempa bumi atau gunung meletus yang bisa ditanggulangi oleh daerah yang terdampak saja, melainkan bencana hebat tersebut merupakan bencana yang menyebabkan pandemi. Singkatnya, sangkar tersebut terinveksi, sangkarnya berada di fase krisis sekarang. Beberapa burung siap terbang mengepakkan sayapnya dengan lihai kabur dari sangkar beracun itu, beberapa lagi ada yang cekcok sebab kejadian ini terlalu tidak masuk akal, beberapa lagi ada yang mencuri kesempatan dalam kesempitan, jatah biji-bijian milik burung lain diambilnya, dibawanya pergi hanya untuk mengisi perutnya sendiri, beberapa lagi ada yang menyesal dan merutuki dirinya karena tidak memiliki kepakan sayap yang lihai, beberapa lagi ada yang pasrah dengan keadaan.
Ilustrasi ratusan juta burung di atas tadi ialah interpretasi apa
yang tengah kita hadapi sekarang. Ya, pandemi yang terkesan begitu mendadak
membuat kita yang sedang tertidur tenang dipaksa untuk bangun dengan keadaan
yang belum memiliki alat tempur yang matang. Berbicara mengenai pandemi yang
tak kunjung usai, tentu kita semua telah dikejutkan dengan fakta yang telah
disuguhi di depan mata. Kita semua tengah dihadapi krisis yang beberapa tahun
lalu kerap terjadi pada negara kita. Selain daripada kita dihadapi oleh krisis
kesehatan, ternyata pandemi ini menyebabkan krisis yang menjalar ke berbagai sektor
seperti politik, sosial, hingga ekonomi.
Jika kita membuka lembaran lama, tentu kita tidak dikejutkan dengan
adanya krisis yang tengah kita hadapi saat ini. Pada tahun 1998, kita pernah
dihadapi krisis ekonomi besar-besaran (Asian Financial Crisis) yang
bermula pada tanggal 2 Juli 1997 ketika pemerintah Thailand yang saat itu
dibebani hutang luar negeri yang besar[1], kemudian di tahun 2008 kita juga pernah menghadapi Global
Financial Crisis[2]. Namun jika
dibandingkan dengan keduanya, krisis yang kita hadapi sekarang bermula pada
kesehatan, sedangkan krisis sebelumnya murni berawal dari sektor ekonomi dan
keuangan. Tentu saja, permasalahan yang kita hadapi jauh lebih kompleks.
Namun pertanyaannya bukan hanya seberapa besar jenis krisis yang
tengah kita hadapi. Tapi, seberapa siap kah kita untuk meghadapi krisis ekonomi
ini? seberapa jauh kah persiapan kita untuk menghadapi krisis ekonomi yang
sangat mengejutkan ini? Tentu ini adalah tantangan terbesar bagi seluruh
masyarakat Indonesia, khususnya generasi milenial.
Sama halnya dengan pandemi yang terus menerus berjalan, kemajuan
teknologi digital, e-commerce dan perubahan-perubahan global lainnya
tentu saja terus bergulir kemutakhirannya. Segalanya telah berubah secara
besar-besaran. Kita pun dipaksa untuk memilih: Shifting atau stand
still; bergeser atau diam di tempat menangisi perpindahan. Krisis ekonomi
yang terjadi di negeri kita ini tentu bukanlah hanya karena kesalahperhitungan
investasi daripada investor, melainkan disebabkan oleh pembatasan kegiatan sehingga
supply-demand mengalami penurunan yang cukup serius. Melihat beberapa
faktor di atas, setidaknya ada dua hal yang bisa diterapkan di kondisi saat ini,
yaitu memiliki kemauan dan buah pikiran untuk mengambil peluang yang ada.
McEachern (2001) mengartikan ekonomi sebagai ilmu yang mempelajari
perilaku individu dan masyarakat dalam menentukan pilihan atas sumber daya yang
langka dalam upaya meningkatkan kualitas hidupnya[3]. Oleh karenanya, lahirnya ilmu ekonomi tentu didasari oleh sebuah
dinamika kehidupan sosial yang terjadi, di mana kita memiliki sumber daya yang
terbatas namun kita juga memiliki keinginan dan kebutuhan yang tak terbatas.
Fenomena ini biasa kita sebut dengan kelangkaan (scarcity). Kelangkaan
tentu mendorong kita untuk terus mencari dan memutar otak agar kita dapat
memilih secara cerdas untuk mencapai segala tujuan yang disebut dengan
kesejahteraan.
Tentu saja, upaya mencari solusi terbaik bagi masyarakat di setiap
daerah adalah urusan negara dan pemerintah. Namun, situasi ini juga bisa
menjadi mesin bagi masyarakat untuk bercermin pada “literasi ekonomi” yang
selama ini kurang dipahami dan dipraktikkan, khususnya di kalangan generasi
milenial. Ketika ekonomi saat ini sedang
bermasalah, apakah kita memiliki kesadaran untuk mengubah perilaku ekonomi? Menilik
hasil dari Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) ketiga yang
dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada tahun 2019 menunjukkan indeks
literasi keuangan mencapai 38,03% dan indeks inklusi keuangan 76,19%[4].
Di masa pandemi seperti ini, dengan keadaan ekonomi yang tidak
stabil namun kemajuan teknologi seperti e-commerce atau aplikasi belanja
online semakin digandrungi anak muda membuat kita sulit untuk mengambil keputusan ekonomi yang
tepat, serta kurangnya pengetahuan tentang orientasi yang harus dipahami dalam
pemanfaat ekonomi bahwa “benefit/manfaat” harus lebih besar jumlahnya
daripada “cost/biaya”. Untuk mengatasi hal tersebut tentunya kita harus melahirkan
tindak upaya agar kita bisa memilah dan
memilih mana yang bersifat kebutuhan dan mana yang bersifat kepuasan saja. Agar
dapat memilih dengan cerdas, Tentu kita membutuhkan literasi ekonomi. Sebab literasi
ekonomi pada pilarnya adalah sebuah “perangkat” yang berarti bukan tujuan yang hendak
dicapai. Maka dari itu, sebab “perangkat” tersebut, literasi ekonomi dapat
menjadi instrumental yang dapat dipelajari dengan jelas dan dikembangkan untuk
mencapai tujuan yang disebut kesejahteraan.
Secara ekplisit untuk dipahami, literasi ekonomi merupakan sesuatu
yang tidak boleh diabaikan. Dengan kecakapan pendidikan literasi ekonomi,
setidaknya kita mampu memahami dengan baik dalam mengambil keputusan ekonomi. Sebab
literasi ekonomi esensinya lebih menekankan tentang pemahaman bahwa ekonomi
harus lebih bertumpu pada rasionalitas komposisi benefit/manfaat versus cost/biaya,
mengetahui dengan pasti dan bisa membedakan mana yang menjadi kebutuhan dan
mana yang hanya sekadar keinginan, serta sikap manusia itu sendiri terhadap economic
decision-making.
Dimaksud untuk mempermudah gambaran yang terjadi tentang analisis
biaya/manfaat, mari kita ilustrasikan dengan kejadian yang tampak di depan mata
seperti berikut, kita gambarkan bahwa kita sedang berselancar di aplikasi
belanja online yang memiliki segudang diskon untuk para penggunanya,
seaindainya seseorang memutuskan untuk membeli sembako di aplikasi belanja
online tersebut, namun setelah ia memasukkan belanjaan yang dipilihnya kedalam
keranjang, orang tersebut melihat ada diskon besar-besaran dari sebuah toko
pakaian ternama. Keputusan terbaik yang seharusnya diambil, akankah membeli sembako
bersamaan dengan pakaian yang diberi diskon, atau membeli pakaian saja tidak
dengan membeli sembako, atau akan tetap pada agenda awal yaitu membeli sembako
saja?
Berkenaan dengan contoh di atas, maka pilihan yang paling tepat dan
cerdas dalam pemanfaatan cost/benefit adalah pilihan yang ketiga yaitu
tetap pada agenda awal untuk membeli sembako saja, jikalaupun ada uang yang
lebih, maka barulah kita memiliki kemungkinan untuk membeli beberapa pakaian
yang di diskon tersebut. Namun, akan jauh lebih tepat jika kita sekadar membeli
sembako saja dan sisa uangnya dapat ditabung. Logikanya ialah jika kita telah
menjadi konsumen cerdas tentu nampak pengontrolan diri, yaitu tetap menjaga
kesepadanan budget sehingga tidak mengalami inefiseinsi.
Dapat disimpulkan bahwa, literasi ekonomi merupakan andil yang
fundamental supaya kita dapat mengendalikan diri untuk mengelola suatu sumber
daya yang terbatas. Selain itu literasi ekonomi juga berpengaruh besar terhadap
sensivitas seseorang dalam mengambil keputusan yang tepat dan cerdas. Memang, literasi
ekonomi sejatinya tidak dapat menjadi jaminan yang absolut agar seseorang
menjadi konsumen yang selalu benar, tetapi harapannya literasi ekonomi
setidaknya dapat mendorong dan menjadikan kita konsumen yang bijak, yaitu
konsumen yang membuntang yang dapat membuat keputusan yang mementingkan manfaat
daripada biaya. Di kondisi yang serba krisis ini hendaknya kita harus lebih
meningkatkan tingkat awareness kita terhadap lingkunagn ekonomi di
sekitar yang tentunya dimulai dari diri kita dahulu. Sehingga benar apa yang
dikatan oleh Prof. Rhenald Kasali, lebih baik kita yang pegang kendali daripada
dikuasai. Lebih baik kita yang mulai pegang kendali terhadap krisis ekonomi ini
daripada kita yang terus-terusan diam ditempat dikendalikan oleh krisis
ekonomi. Kalian, apa sudah siap menjadi konsumen cerdas melalui praktik
literasi ekonomi di hari jadi Indonesia yang ke-76 besok?
[1]
https://www.indonesia-investments.com/id/budaya/ekonomi/krisis-keuangan-asia/item246
[2] Dadang
Solihin. (2009, 03 Desember). The Impact of Global Financial Crisis on
Indonesia. Tulisan pada
https://www.slideshare.net/DadangSolihin/the-impact-of-global-financial-crisis-on-indonesia
[3]
McEachern, W. A. 2001. Ekonomi Mikro. Jakarta: Salemba Empat.
[4] http://www.ojk.go.id


Comments
Post a Comment